Kini Ilalang Kecil Tak Lagi Sendiri

Sejak kecil Ilalang itu sendirian. Tak punya kawan, tak ada yang melihat, apalagi merawat. Tak heran, Ilalang itu selalu berulah, ingin diakui keberadaannya.

Bangga Menjadi Anak Petani

Pagi hari tak begitu berat bagi Ilalang. Namun, tidak bagi laki-laki paruh baya yang di pagi harinya harus bergegas pergi ke sawah sebagai seorang petani desa. Petani desa tersebut merupakan ayah dari Ilalang. Walau mereka bapak dan anak, namun mereka tak satu atap.

Televisi; hiburan, pendidikan atau perusak moral

Jangan biarkan anak menyaksikan acara yang tidak sesuai dengan usianya. Orang tua menemani sang anak nonton, bukan malah orang tua yang ditemani anak menonton televisi.

Antara Teori mengajar menurut Howard dengan Sepenggal kisah belajar Naruto

Jika ditelusuri lebih dalam, ternyata pendapat yang dikemukakan oleh Sudjana telah diimplementasikan oleh Naruto. Dalam kesehariannya berjalan menapaki kehidupan..

Satu Bulan Dalam Sanubaru Perjuangan

Seorang filsuf dan politikus Prancis bernama Charles de Montesquieu pernah mengatakan, “agar menjadi benar-benar hebat, seseorang harus berdiri dengan masyarakat, bukan berdiri di atas mereka”..

Setiap Tulisan Punya Pasarnya Sendiri

Jangan mengkerutkan dahi dan patah semangat. Ejekan seperti itu bukan menjadi alasan kita menaruh pena dan berhenti menulis. Berpikirlah positif!! Mungkin selerah mereka yang mengejek tulisan kita terlalu rendah, sehingga tidak tertarik dengan tulisan kita yang luar biasa.

Jumat, 11 Desember 2015

Aku Tak Pernah Menginginkan Kehadiranmu dalam Hidupku



Oleh. Abdul Rozak Ali Maftuhin

Usia semakin bertambah semakin bertambah pula masalah yang dihadapi. Kalimat ini ini sering kali terlontar dari mulut sebagian orang yang pernah kita jumpai dalam kehidupan ini. Wahai sahabatku yang budiman, bagi sebagian orang masalah merupakan proses pendewasaan diri, yang mana ia mengajarkan kepada kita agar semakin kuat dan banyak pengalaman tentunya. Namun, bagi sebagian lainnya masalah bagaikan derita tiada akhir yang membuat kebahagiaan hilang dan impian menjadi sirna.
Wahai sahabatku yang budiman ingatlah, masalah bukanlah akhir dari segalanya. Jangan biarkan masalah mematahkan langkah, meruntuhkan semangat, dan menghancurkan impian kita. Karena disadari atau tidak, terkadang ketidak terimaan kita menghadapi suatu masalah akan semakin membuat kita menjadi lebih terpuruk. Bahkan tak jarang dengan situasi seperti ini kita menjadikan orang lain sebagai sasaran atas masalah kita.
Ketika kita mendapati suatu masalah yang berat, pernahkah kita menjadikan orang lain sebagai sasaran dengan mengatakan “andai dia saat itu tidak ada pasti masalah ini tidak akan terjadi”. Jika memang masalah yang kita hadapi disebabkan karena orang lain, mungkin kesadaran diri dari yang bersalah akan membawanya menemui anda seraya meminta maaf. Namun hal yang berbeda akan terjadi ketika kita melayangkan tuduhan terhadap seseorang atas masalah kita sedang orang itu tidak merasa bersalah, atau barangkali memang ia tidak bersalah.

Rabu, 09 Desember 2015

Nostalgia Keceriaan Masa Kecil Dengan Petak Umpet

Oleh. Abdul Rozak Ali Maftuhin


Seneng liat anak-anak main petak umpet dan kejar-kejaran di depan kos setiap malamnya. Setelah sekian lama aku tak melihat keceriaan, tantangan, dan bahkan tangis, yang melebur dalam permainan itu. Tantangan itu, berupa ketrampilan bersembunyi yang tak mudah ditemukan oleh si giliran jaga. Melawan merinding akibat gelapnya malam dan mitos hantu, bukannya kalajengking atau ular.
Tangis kadang hadir saat kita kena giliran jaga, tapi susah menemukan kawan yang sembunyi. Aku pernah mengalami itu semasa masih duduk di Sekolah Dasar dulu. Pernah saat giliranku jaga, kawan-kawanku bukan main sulitnya untuk dicari. Ya sudah, kuputuskan untuk nangis dan pulang ke rumah. Besoknya, mereka tak lagi mau bermain petak umpet denganku.
Namun hanya pada malam itu saja mereka berkata demikian. Besoknya, sebungkus es yang kuminum bersama dengan kawan-kawanku itu meluluhkan ucapan sebelumnya. Akhirnya, kami kembali main bersama, dan itulah yang kusebut dengan keceriaan. Biasanya kalau sudah seperti ini, aku tak lagi berani untuk kabur meninggalkan mereka ketika aku kena giliran jaga. Takut mereka suatu ketika benar-benar tak mau lagi main. Jadi ketika mereka sulit dicari, mending pasrah mencari dengan santai, sambil berharap orang tua segera memanggilku untuk pulang.
Walau sama-sama petak umpet, pada masaku dulu dengan yang kulihat di depan kosku berbeda jauh. Waktu aku bermain petak umpet dulu, semua kawan-kawanku laki-laki, berbeda dengan yang kujumpai saat ini, ada beberapa perempuan yang ikut main. Selain itu, area petak umpet kami dulu hingga satu desa luasnya, bahkan pernah suatu ketika sampai desa tetangga. Lagi-lagi berbeda dengan yang kulihat saat ini, yang hanya satu kompleks atau satu ‘r-t’ saja. Kukira ini hanya faktor zaman dan tempat saja. Aku jadul (jaman dulu), mereka jabar (jaman baru). Aku di desa, dan mereka di kota. Sehingga pola permainan kami sangat berbeda. Hehehe

Filsafat; benarkah engkau menyesatkan?



Rozakpedia.blogspot.com - Filsafat itu menyesatkan. Kalimat ini kerap kali terdengar di telingaku. Benar atau tidaknya saya tak bisa menjawab secara pasti. Bagiku, kalimat tersebut tidak sepenuhnya benar. Filsafat itu menantang, bagi saya. Nah, yang tidak bisa mengalahkan tantangan di dalamnya, filsafat bisa berujung pada kesesatan. Filsafat membangun pola pikir yang unik dan kritis. Semakin dalam mengkaji filsafat biasanya akan semakin aneh-aneh apa yang dipertanyakan, yang lebih ekstrem mempertanyakan eksistensi Tuhan. Mungkin ini kali ya yang membuat kebanyakan orang menganggap filsafat itu menyesatkan dan enggan mempelajarinya.
Kawan, izinkan daku bertanya!! Misalkan kita tengah belajar bela diri, sehingga menjadi ahli bela diri. Lalu suatu ketika, ketrampilan yang harusnya kita gunakan dalam kebaikan justru kita jadikan dalam kejahatan. Memalak adik kelas di sekolah, misalnya. Dengan kasus seperti ini bisakah ‘bela diri’ dicap sebagai ilmu yang merusak? Kalau saya lebih suka mengatakan pelaku bela diri itu yang merusak, dan bukan ilmu bela diri tersebut.
Nah kawan, sama halnya dengan filsafat. Kadang orang yang belajar filsafat itu bisa saja menyesatkan, sekali lagi saya bilang ‘orangnya’ bukan ‘filsafatnya’. Dan orang yang menyesatkan karena belajar filsafat tuh ya tidak semua. Bagiku yang menyesatkan tuh orang yang baru belajar filsafat sudah berani petentang-petenteng, ngetes teman seusianya yang masih polos masalah begituan. Selain mencari eksistensi biar dianggap pinter, otak-otak seperti ini nih yang menyesatkan. Kembali lagi, pelakunya yang tidak bisa berlaku bijaksana, dan bukan filsafatnya.

Minggu, 06 Desember 2015

Kampusku; antara pujian dan kritik



Universitas Muhammadiyah Malang terkenal dengan kampus yang asri, sejuk, dan menyenangkan. Itulah kalimat yang sering diungkapkan makhluk-mahkluk yang ada di dalamnya. Mahasiswa yang suntuk di kos, penat karena tugas yang pekat, tak perlu tempat wisata yang berbayar untuk menghilangkan suntuk dan penat itu. Cukup datang ke kampus, gazebo di bawah rindangnya pohon, hamparan danau, hingga sabana mini akan menemani kita menuju damainya jiwa.
Tidak cukup sampai di situ, terdapat banyak sekali ‘Sepeda Ontel’ yang akan mengantar perjalanan kita menuju tempat yang diinginkan, asalkan sepedanya tidak dibawa ke luar kampus ya, atau kita akan berurusan dengan tongkat satpam. Dan jangan merasa kecewa ya jika kita baru keluar dari parkiran, lalu ingin naik sepeda menuju GKB, lah kok menjumpai sepeda masih terborgol rapi di tempatnya. Aku lupa kapan program ‘Go Green’ itu dijalankan yang ditandai dengan peluncuran ratusan sepeda ontel tersebut. Yang ku tahu sekarang sepeda itu hari demi hari hilang dan beberapa yang rusak, entah penggunanya yang salah atau memang kualitas sepedanya yang rendah. Jadi maklum, sebagai wujud antisipasi sepeda-sepeda itu sering diborgol.
Hai kawan, pernahkah kalian masuk lorong GKB 1 lantai 3? Sebagian banyak mahasiswa pasti pernah melewati jalan ini. Ketika aku berjalan di sana, bagaikan pasar, duuuhh. Bagaimana tidak, dalam lorong yang sempit itu puluhan bahkan ratusan mahasiswa berkumpul dan berceloteh bak kawanan bebek di sana. Bahkan aku yakin, bagi kita yang tingkat kesabarannya rendah, seakan amarah adalah pilihan yang pasti ketika kita terburu-buru masuk kelas lalu terhadang kawanan manusia di lorong itu. Pengen sekali ku bisikan seuntai kata ke dalam telinga penguasa-penguasa di atas itu, ‘lihatlah mahasiswamu ini pak, tidak inginkah engkau menyediakan tempat tunggu yang layak, yang mendukung suasana belajar dan aman’.
Malam minggu kemarin, tepatnya Sabtu tanggal 5 Desember. Pada pukul 22.00 WIB aku melintas ke kampusku ini untuk menjemput temanku dari Sidoarjo. Masuk gerbang utama aku mencari temanku di dalam kerumunan orang-orang dan suara sound sistem yang menggetarkan telinga. Ketemu sudah temanku, lanjut perjalananku untuk pulang. Sesampainya di samping lapangan basket, sejenak ku tengok ke arah kanan, terdapat suatu panggung dengan gemerlap dan musiknya, yang melenakan penontonnya untuk ikut bergoyang dengan musik disko. Laki-laki dan perempuan jadi satu kerumunan yang saling berlompatan seraya mengangkat tangan. Aku tak tahu siapa dalang di balik itu, yang jelas acara macam itu yang bertempatkan di kampus Islamiku rasanya sangat janggal.
Yaa itulah kampusku kawan, banyak sekali hal yang bisa dijumpai di setiap ujung dan lorongnya.

Kamis, 03 Desember 2015

Kepada Orang Yang Baru Patah Hati


Oleh. Abdul Rozak Ali Maftuhin

Kepada orang yang baru patah hati, persilahkan diri kita bersedih. Orang-orang punya pandangan yang aneh tentang bersedih, seakan-akan bersedih adalah hal yang tabuh, seakan-akan kita harus segera tertawa setelah hal buruk menimpa kita. Tapi tidak, seperti hujan di tepi senja, kita harus membiarkan setiap sendu yang ada. Setiap kematian butuh peratapan, begitupun cinta yang telah mati. Maka menangislah hingga kita tidak bisa mendengar suara sendiri, makan coklat sebanyak-banyaknya, mandi air panas hingga jari kita pucat, pergi ke cafe dengan tatapan nanar, pesan es teh manis, karena kopi mungkin terlalu pahit untuk diminum disaat seperti ini. 

Izinkahlah diri kita bersedih, manangislah seakan ini terakhir kali kita dikecewakan seseorang, menangislah seakan kita lupa bagaimana caranya berharap. Kepada orang yang baru patah hati, setelah kita bosan bersedih, inilah saatnya kita mengangkat diri kita kembali. Mulai dengan hal yang mudah, kita bisa mencoba mengambil gitar dan mengambil nada-nada mayor yang indah, ambil piano dan mainkan soneta yang indah, atau jika kita tidak bisa bermain musik, lihatlah diri kita di depan cermin dan bersenandunglah. Lalu diantara nada-nada itu, bisikan kepada diri kita "Aku pantas bahagia". 

Kepada orang yang baru patah hati, selalu ada teman untuk menemani kita, pergilah menemui teman-teman, tertawalah sampai lupa waktu, tanyakan kabar teman yang lain, pamerlah keberhasilan kita di bidang-bidang yang kita suka, dan jika memungkinkan, nongkronglah hingga kita diusir dari tempat itu. Emang sih kenangan akan dirinya terkadang masih sering mengganggu, tempat yang pernah kita datangi tidak akan terasa sama, teman yang belum tahu, mungkin akan menghampiri kita dan bertanya "Si dia mana ya?", yang kemudian akan kita jawab dengan senyum tipis, karena tak tahu harus menjawab dengan apa.